Pengadil Lapangan Hijau


Aku seorang pengadil lapangan hijau, sebuah peluit selalu ada di tanganku. Kecintaanku pada sepak bola tak berujung manis. Karier sepak bolaku tak begitu cemerlang. Pilihanku datang sebagai juri adil di lapangan. Teman-teman kecilku menganggap aku cukup adil dalam memimpin pertandingan.


Lama kelamaan aku kerasan dengan profesi baru ini, dan aku mencoba menekuninya sebaik mungkin. Karierku harus jalan lebih tinggi, pertandingan tingkat tarkam mungkin buatku hanya jalan di tempat. Sekolah kepelatihan juru adil jadi pilihan utamaku... Pilihan yang aneh di mata orang tuaku, tapi aku yakin menjadi pengadil begitu mulia pekerjaan itu.

Sepak bola memang mengubah segalanya, karier menanjak naik... memang semua harus dimulai dari bawah. Aku harus memimpin laga dari level junior, kasta demi kasta hingga akhirnya ke divisi utama. Tapi semua itu terasa cepat, takdir jadi juru adil mungkin sudah jadi jalanku.

Raporku dianggap memuaskan hingga akhirnya diriku mampu ditunjuk jadi wasit utama. Memang beban jadi begitu berat. Dunia wasit memang penuh dengan sesuatu hal kelam, andai gelap mata atau salah sedikit. Nasibku bisa berakhir petaka.

Aku dianggap sebagai wasit terbaik dan laga besar mulai berdatangan buat aku jalani. Tak ayal diriku dianggap wasit yang adil. Pujian demi pujian mulai berdatangan... aku pun bangga dengan mimpiku di dunia sepak bola.

Namun suatu hari petaka besar datang, sebuah laga besar berlangsung sistem kandang-tandang. Aku harus memimpin laga leg dua yang menentukan buat tuan rumah. Mereka hanya butuh hasil seri saja untuk bisa lolos ke laga pamungkas.

Pertandingan berjalan dengan tensi tinggi, pelanggaran demi pelanggaran dan provokasi demi provokasi tak hentinya berlangsung. Penonton tim yang terkenal ganas tak hentinya bersorak, kadang bersiul, dan bahkan mencibir. Aku harus konsentrasi karena pertandingan mulai menginjak akhir laga.

Skor masih sama kuat 0 vs 0, hingga akhirnya penyerang tim tamu melakukan aksi tak terpuji. Ia seakan melakukan simulasi jatuh di kotak penalti. Pikiranku ragu-ragu karena tak terlihat jelas, namun seakan ada dorongan yang buat diriku meniupkan peluit dan menunjuk titik putih.

Tim tuan rumah protes keras, semua mengerumuni diriku. Aku tak bergeming dengan pilihanku. Tetap titik putih. Bola pun diletakkan di titik putih untuk dieksekusi. Si pemain lawan dengan sigap bisa mengecoh kiper tuan rumah. Mereka seakan terselamatkan dan kini berpeluang besar untuk lolos ke final.

Tim tuan rumah tak menyerah, mereka menyerang hingga detik terakhir. Terjadi kontak yang hampir sama dengan kejadian tadi di koak penalti. Diriku pun meniup peluit dan bukannya  menunjuk titik putih.

Namun menganggap aksi tersebut hanya diving murahan, aku mengganjarnya dengan kartu kuning kedua karena ia sudah melakukan pelanggaran bodoh di babak pertama. Aksi protes si penyerang buat kepala pusing.

Semua penonton marah dan diriku seakan ingin diserang habis-habisan di lorong pemain. Tapi pengawal seakan sigap menyelamatkan diriku. Kesalahan yang aku lakukan seakan menjadi sorotan tajam. Masaku itu belum ada teknologi yang membantu wasit, tayangan ulang seakan mencederai pikiranku.

Aku mencoba menenangkan diri, dua orang hakim garis juga menenangkan diriku. Semua hal bisa terjadi di sepak bola dalam sekejap saja. Mungkin dengan aku pulang bisa melupakan itu semua.

Apa daya, anak dan istri seakan menghilang dariku, mereka mencari tempat aman karena banyak teror yang datang padaku. Kolega dan tetangga seakan kecewa dengan tindakanku itu, aku dianggap dibayar mafia judi.

Tak lama kemudian federasi menurunkan jabatanku, aku seakan diistirahatkan sementara dari sepak bola. Mungkin aku merasakan efek domino itu, rasa takut seakan mengancam setiap waktu. Aku tabah ini akan segera berakhir. Hujatan pun tak berhenti, sosial mediaku penuh dengan cacian yang bikin aku mengakhiri hidup. Keluar rumah pun aku tak berani dan mengasingkan diri adalah cara terbaik.

Kini aku hanyalah pria pemurung yang menyesali kesalahanku, duduk di bar dengan meratapi kesalahan lampau. Tapi aku sadar, semua manusia punya salah. Hujatan dan cacian yang menyakitkan seakan buat diriku lupa bahwa sepak bola yang membesarkanku telah berbuat kejam pada diriku. Sekarang aku benci sepak bola!!!

Share:

0 komentar