Petarung Octagon

Petarung Octagon
Bermain di dunia tarung yang berbeda harus diriku ambil, ini kesempatan besar untuk membuktikan diri bahwa aku bukanlah jago kandang. Ia pun harus keluar dari zona dasar ilmu bela dirinya, semua ingin ia wujudkan dengan tekad, kedisiplinan, dan kepercayaan diri.

Ia ingin bergelut ke bidang tinju, mencari orang yang ahli di bidang  dan mempelajari semuanya dari awal walaupun dirinya hanya petarung Octagon. Pencarian tersebut dimulai saat mencari para pelatih yang ahli di bidang disiplin ilmu tinju, sebuah perbedaan besar menjadi fighter dan boxer. Tanpa teknik bantingan, kuncian, dan gaya bermain penuh peraturan harus diikuti. Itu harus dijalani dengan seksama untuk keluar dari zona nyaman.

Di mulai dari berlatih tangan lebih sering dibandingkan dengan anggota tubuh lainnya. Meningkat kemampuan fokus dalam memukul dengan maksimal, ibarat memindahkan energi dari tungkai tangan ke target. Kecepatan dan ketahanan jadi senjata untuk menaklukkan lawan di atas ring.

Semua dilakukan berulang kali tanpa lelah untuk sebuah pukulan yang mematikan. Koordinasi dan ketepatan jadi kunci dalam menyasar lawan. Apalagi lawan sudah punya 1001 cara untuk mengelak.

Memukul Samsak berkali-kali jadi rutinitas tak pernah lepas dan menari-nari mengelilinginya, sesekali menunduk, mengelak sambil melepaskan tendangan. Tak hanya itu saja, ada drill yang dipukul berulang kali untuk mengasah kemampuan dan ketepatan pukul.

Untuk mengisi kekosongan, kadang harus berlatih dengan shadowbox. Tak cukup itu saja, latihan lain mengiringi latihan seperti latihan beban, latihan lari, hingga mendaki gunung. Semua dikombinasikan dengan seksama untuk hasil maksimal.

Pasti tak asing proses melatih kekuatan otot dengan melatih Push up, Dip, Plank, Pull up, dan Chin up. Proses pembentukan otot mulai dari Row, Bench press, Shoulder raise, dan Bisep curl.

Semua tak berhenti di situ semata, mencari lawan tanding yang sepadan jadi alasan menambah jam terbang hingga pertandingan sesungguhnya datang. Seakan sang petarung akan mengenal segala teknik yang dimiliki lawannya dan membuat ia tak hanya berlatihan dengan benda semata.

Kekuatan kaki tak bisa anggap sebelah mata, kaki bak penyangga saat serangan lawan dan keseimbangan tubuh. Mulai dari jogging hingga latihan sprint, karena bertinju membutuhkan segala sumberdaya yang ada. Mungkin berlatih di daratan tinggi bak mendaki gunung juga dibutuhkan sebagai meningkatkan stamina hingga ronde terakhir.

Semua itu akan sia-sia tanpa nutrisi dan makanan yang memadai. Tenaga yang besar jelas membutuhkan energi tak kalah besar. Asupan protein dan makanan rendah lemak jadi pilihan untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Pengaturan berat badan dan nutrisi terus dijaga hingga pertandingan dimulai, sungguh perjuangan berat. Ditambah lagi pengaturan istirahat yang optimal, ibarat proses recovery setelah latihan dan makan. Akan tak ada hasil apa-apa andai itu semua tidak dijalankan keseluruhan.

Hingga hari itu pun tiba, bersiap di atas ring dengan penuhi para penonton yang telah bersorak-sorak mendukung. Semua mata tertuju ke arah sang penantang beda ilmu bela diri melawan seorang boxer handal yang sudah makan asam garam di bidang tersebut.

Ibarat seorang amatir dengan profesional handal, namun sang amatir mencoba sekuat tenaga yang ia miliki selama latihan penyesuaian. Alhasil ini melakukan segala macam pukulan yang berhasil ditahan saja.

Ia pun tak sadar bahwa tinju harus bermain dalam rentang waktu lama bahkan hingga 12 ronde, berbeda jauh dengan bela diri campuran yang hanya bermain 5 ronde. Semua sudah seperti diprediksi, tenaga sang petarung Octagon harus habis seperti halnya 5 ronde yang biasa ia mainkan.

Hanya boleh memukul di kepala dan badan jadi alasan besar karena itu tidak dilakukan terus menerus di olahraga yang ia geluti. Hingga akhirnya ia seakan “kehabisan bensin” sang lawan yang tak terkalahkan dengan mudah memukul balik.

Ibarat sebuah tim yang bertahan total sejak awal laga dan melihat klub lawan kelelahan dan saatnya ia melakukan serangan balik yang memporak-porandakan pertahanan lawan. Permainan yang menguasai sepanjang lawan terasa sia-sia, karena ia harus dipukul KO. Membuktikan bahwa jam terbang ialah segalanya.

Tapi sang petinju amatir sadar bahwa ia telah melewati batas yang ia miliki, keluar dari zona nyaman hingga menantang ketidakmampuan itu. Walaupun ia kalah, ia sadar bahwa siapa saja bisa meraih mimpinya melebihi apa yang ia mau.

Share:

0 komentar