Nelayan Tua dan Tangkapannya

Nelayan Tua dan Tangkapannya
Tiupan kencang angin dari barat laut tak menggoyahkan niat nelayan tua pencari ikan. Kumpulan awan hitam di ujung langit seakan menghalangi niat si nelayan tua untuk menaikkan alat tangkapnya ke atas perahunya.

Nyalinya seakan dibuat ciut dari kejauhan terlihat awan hitam di ujung langit, kilat dan geledek seakan menusuk-nusuk lautan yang pasrah. Udara dingin seakan terbawa ke arah pantai dan menusuk tulang.


Ia pun yakin bisa menangkap ikan di lautan lepas, saat guyuran hujan menepis-nepis lautan luas. Di saat gerombolan di dalam laut berpesta di dalamnya, menikmati plankton yang naik ke permukaan.

Bermodalkan perahu layar sebagai bahan bakar, nelayan tua tersebut bergerak ke lautan luas. Ia mungkin iri melihat kapal bermesin dengan gagahnya mengarungi lautan kapan pun ia mau, tidak perlu membaca arah angin untuk mencari ikan.

Sang nelayan sadar bahwa kemampuannya tidak sampai di situ, ia hanya berharap dari perahu kecilnya mampu memuat ikan hasil tangkapan. Menjual sebagian hasil tangkapan ke pasar untuk menyambung hidup.

Ia sadar tak bisa menjangkau yang luas dan jauh, pergi saat angin darat dan pulang saat puncak angin laut. Rutinitas itu yang membuat ia bisa sampai ke tengah laut dan menangkap rezeki dari dalam laut.

Perjalanan ke tengah laut kadang membutuhkan tenaga ekstra, mengatur arah layar hingga ke titik lokasi yang diinginkan. Sang nelayan tua bekerja sendiri tanpa anak buah kapal yang bisa membagi tugas.

Ia yakin tubuhnya masih cukup kuat melakukan itu semua, ia sadar hasil tangkapan yang ia dapatkan cukup untuk menyambung hidup setiba di dermaga. Kini ia merasa bahwasanya inilah lokasi yang tepat melemparkan jaring.

Bermodal insting tajam sang nelayan mengetahui keberadaan ikan, pengalaman dan ilmu turun-temurun tetapi diwarisi. Tanpa teknologi mumpuni namun insting itu seakan menebak keberadaan gerombolan ikan.

Menunggu ikan-ikan lewat dan terjebak di dalam jaringnya, namun apa daya saat gerombolan ikan yang sedang berpesta di dalam laut menabrak-nabrak jaringnya. Energi berontak yang kuat dari ikan seakan memberikan lubang di jaring nelayan. Ia merasa semua ikan hasil jeratannya terlepas tanpa sisa.

Awan hitam seakan pecah dan menghasilkan hujan deras, menumpahkan jutaan kubik air langit hingga mengaburkan penglihatan. Sang nelayan tua seakan menyerah dan ingin kembali ke daratan.

Ia berpikir di dalam hati kecilnya, mengapa aku tidak membatalkan saja niat melaut di tengah awan hitam. Bisa-bisa nyawanya terancam karena hujan seakan menggoyangkan perahunya dengan begitu kuat.

Namun ia seakan menunggu hujan mulai reda dan gelombang mulai jinak, hanya ada satu alat tangkap yang tersisa yakni pancing sederhana. Dalam pikirannya hanya terlintas keraguan, mana mungkin pancing ini ia bisa mendapatkan ikan. Menggantikan ikan-ikan yang terlepas dari jaringnya tadi.

Tekadnya bulat dan iya yakin dengan itu semua, dengan sekuat tenaga ia melemparkan kait menjauhi perahunya. Waktu berjalan begitu lama, namun tak ada tanda-tanda gigitan ikan menghampiri kailnya.

Ia pasrah akan pulang dengan tangan kosong, anak istrinya akan kecewa dengan dirinya. Namun saat akan mengangkat kail, sesuatu benda berat seakan menarik dengan kuat pancingnya.

Melawan-lawan ke sana kemari, tidak membuat sang nelayan tua menghela napas sedikit pun. Sang nelayan merasa ikan yang menarik pancingannya salah satu spesies tuna yang terjebak di lautan dangkal. Mungkin saja ia terlepas dari gerombolannya saat badai besar tadi datang dan seakan lapar dan menerkam umpan pancing nelayan tua.

Nelayan tak mau kalah, ini kesempatan terakhir ia membawa pulang hasil tangkap karena tidak ada satu umpan pun yang tersisa. Di saat tenaganya mulai terkuras habis menahan tarikan sang ikan, ia pun ingat bahwa di dalam laci perahunya ada sebilah parang.

Ia menusuk parang ke bagian kepala sang ikan, membuat ikan tuna itu melemah dan membuat nelayan mampu menaklukkannya. Sekuat tenaga ia menaikkan ke atas perahunya, sungguh mengejutkan bahwa iya yang dapatkan tuna jenis langka dan berharga mahal. Ia seakan tertimba durian runtuh.

Nelayan sadar bahwa ia harus segera kembali, apalagi perahunya hanya punya layar yang bergantung pada angin. Aura lelah dan bahagia mewarnai dirinya, ia sadar bahwa kesabaran dan kegigihannya membuahkan hasil.

Daratan mulai terlihat bak garis panjang dan dalam sekejap ia sudah sampai di dermaga ikan. Nelayan yang menggunakan perahu bertenaga motor dan berukuran besar terkejut, dari kapal nelayan tua berhasil terjaring ikan tuna langka.

Mereka mati-matian menghabiskan perbekalan dan bahan bakar mencari tuna model tersebut, tapi tak pernah didapatkan. Sedangkan si nelayan tua yang hanya bermain di laut dangkal berhasil membawa pulang ikan tersebut.

Semua seakan angkat topi atas keberhasilan si nelayan tua, walaupun ia sering dianggap sebelah mata oleh nelayan sekitar. Tapi ia seakan kini membuktikan segala anggapan itu sirna bahwa tangkapannya menaikkan citra menjadi nelayan kalangan elit.

Semua itu didapatkan dari proses sabarnya menghadapi hal tidak mungkin hingga menjadi mungkin. Saat orang lain tidak mampu atau kadang kala menyerah di tengah jalan, ia sadar bahwa segala rezeki tidak tertukar walaupun hingga titik nadir terakhir.

Kini anak dan istrinya tersenyum menyambut sang nelayan saat sampai di rumah, papa luar biasa ucap anaknya.

Tags:

Share:

4 komentar

  1. Aku pernah main ke pantai dan lihat nelayan dan perahunya terombang-ambing ombak. Aku merasa was-was melihat mereka yang berjuang untuk menafkahi keluarganya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.. Mereka (nelayan) kadang harus merasakan rasa mual dari ombang ambing gelombang hanya untuk mendapatkan ikan

      Hapus
  2. Senang kali aku baca cerita-cerita kayak gini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.. Terima Kasih kunjungannya mastah mirwan

      Hapus