Secarik Kertas

secarik kertas

Aku hanya secarik kertas putih tanpa noda sedikit pun, bau pabrik tempat diriku diproduksi masih begitu kentara. Kadang aku dengan beberapa lembar kertas lain masih begitu menyatu satu sama lain hingga begitu sulit untuk dipisahkan.

Menjadi kertas putih hidup seperti tanpa satu titik pun yang tertulis di situ. Nilai yang melekat di diriku masih begitu kosong melompong. Kadang bisa berakhir di tong sampah atau menjadi sebuah mahakarya karena tulisan yang terpampang di dalamnya.

Memang itu semua di luar kuasa si kertas, ia hanya media dan yang menuliskan adalah manusia yang punya ide cemerlang. Ia hanya jadi sebuah kertas yang jadi coret-coretan saja kemudian terbuang di dalam tong sampah di sudut kelas.

Sebenarnya si kertas ingin lebih, ia punya niat dan berharap yang menulis memberikan sesuatu lebih. Menuliskan kata-kata puisi yang kemudian bisa nangkring di Mading sekolah. Semua ikut takjub akan tulisan itu, ia menempel di tubuhku ujar si kertas.

Ada pula sebuah surat cinta yang diberikan kepada si pujaan hati, kata-kata manis dan mesra tersusun manja. Tulisan tersebut buat hati pujaan hati yang serba tertutup seakan luluh pula. Iya mengiyakan apa cinta terpendam si pengirim surat. Bahagia bukan main!! Berkat secarik kertas dua sejoli saling senyam-senyum sendiri.
Baca juga: Tahun Baru, Sebuah Dimensi Waktu

Seorang bapak yang sedang sakit keras seakan ia tinggal menunggu waktu “tutup buku”, ia berkata kepada anak dan istrinya yang sudah lama menemaninya sakit. Berikan saya secarik kertas dan sebuah bolpoint, aku ingin menuliskan sesuatu ujar si bapak.

Dengan sekuat tenaga ia menuliskan beberapa kata-kata hingga menjadi sebuah kalimat. Tertulis di atasnya, surat wasiat. Si kertas punya jasa penyambung lidah dan kata-kata terakhir si bapak.

Di tempat yang jauh, sedang berlangsung ujian tahap akhir. Semua mahasiswa begitu gugup menjawab soal-soal ujian. Mereka sebahagian panik dan sebahagian lagi leluasa menjawab. Air muka begitu terlihat dari setiap wajah peserta ujian. Baru berapa saat ujian berlangsung, teman paling cerdas di kelasnya sudah mengisi semua jawaban.
Baca juga: Eksistensi Tulisan
Namun terlihat kontras dengan teman-teman yang lain, ia merasa tak enak hati. Kode-kode memberi jawaban mengarah dari bangku belakang. Ia langsung mengeluarkan secarik kertas untuk membagikan sontekan kepada teman-temannya. Sesaat pengawas lengah, ia menyodorkan kertas ke arah teman-temannya.

Si mahasiswa cerdas itu keluar kelas dengan riang gembira, tapi senyumnya seakan luntur. Ia lupa bahwa jawaban yang ia berikan adalah jawaban ganjil, sedangkan mereka dapat soal genap. Secarik kertas mengubah nasib teman-temannya. Itulah kekuatan secarik kertas, tak ada yang menyangka pengaruh besar yang ia berikan.

Share:

0 komentar