Manusia Introvent

manusia introvent

Di zaman kini saat jarang menemui manusia-manusia introvent, ia berpikir berbeda dibandingkan manusia di lingkungannya.

Saat manusia umumnya membuka selebar-lebarnya ruang hati dan perasaan di sosial media, mereka para manusia introvent malah melakukan sebaliknya. Ia seperti tidak mau ambil puing dengan hingar-bingar dunia ini.
Saat manusia sebaya dengannya sibuk dengan sejuta aplikasi apa yang belum dikunjungi, si manusia introvent seakan sudah menyelesaikan sejumlah pekerjaan ia lakukan. Bergerak di bawah tanah tanpa terendus oleh orang lain.

Mereka menganggap segala macam teknologi malah membuat hidup rumit, batas privasi seperti tergerus sejengkal demi jengkal. Tak ada lagi batas tahu dan tidak tahu oleh orang lain.

Manusia introvent hanya tersenyum saat ia diajak dengan bujuk rayu oleh teman dekatnya untuk mengubah idealisme berpikirnya. Sedikit membuka diri termasuk memiliki jejaring sosial.

Mereka yang penasaran dengan manusia introvent itu habis-habisan mencari tahu lewat aplikasi yang terpatri di gawai. Hasil ialah nihil. Jejaknya tak terendus oleh mesin pencari. Siapakah dirinya dan apa yang sedang ia lakukan, manusia introvent mengundang sejuta tanda tanya.

Memang ia bukan siapa-siapa du dunia maya, tuan Google saja angkat tangan dengan keberadaannya dirinya. Apa lacur, di dunia nyata adalah manusia berpengaruh namun ingin tetap tak terlihat.

Hanya karya saja wajah dan rupa tak usah peduli. Ia bukan orang yang gila popularitas dan tak ingin hidupnya terusik lebih dalam.

Dan saat anda menikmati setiap karyanya di tengah kemacetan atau lalu lintas padat di dalam transportasi umum. Anda mengatakan kepada seorang di samping anda untuk menikmati karya manusia misterius nan introvent itu. Manusia itu hanya tersenyum dalam sambil berkata: tak apa.

Siapa sangka dialah orang yang bekerja di bawah tanah, tak butuh popularitas dan eksistensi. Ia hanya butuh semua takjub orang dengan karya dan berpikiran bahwa manusia-manusia introvent nan misterius itu sungguh luar biasa.

Tags:

Share:

0 komentar