Wahai Nuasa Senja


Burung mulai bersiap-siap mengepakkan sayapnya untuk pulang ke rumah, langit mulai terlihat redup bercampur warna kekuningan. Matahari mulai pergi tenggelam perlahan sembari pergi, melaksanakan tugas menyinari wilayah lain nan jauh. Warna oranye semakin terang memanggil semua makhluk hidup diurnal untuk segera mungkin pulang sebelum malam tiba. Langit biru dihiasi sinar matahari diganti langit gelap berlatar bulan serta bintang menarik layar. Terasa senyap suasana di ufuk barat.
Waktu itu adalah detik-detik sakral dan para manusia menamai senja, sungguh indah namanya begitu pula prosesnya buat kita ingin menikmati sisa pendaran sinar matahari yang mulai melemah nan merendah. Kota yang kamu saksikan terlihat begitu romantis saat senja menyapa wahai sinar matahari meredup nan eksotik.

Sama seperti hujan, rasa kangen diselimuti rindu datang walaupun tanpa kepastian.  Senja selalu datang tiap sorenya, namun keelokan hanya pada waktu tertentu kamu bisa melihat pancaran senja secara sempurna. Pagi dan siang yang cerah tak menjamin senja di sore harinya terlihat sempurna, semua berpedoman seberapa banyak awan yang berkumpul membuat kesatuan yang menghalangi keindahan senja di ufuk barat. Perpaduan merah kekuningan dipadukan langit biru dan awan biru yang begitu indah. Ujung dari padi yang masih hijau tiba-tiba berupa menjadi kekuningan terkena pancaran sinar matahari senja.

Bila hujan turun di saat senja tiba, manusia bergegas pulang lebih cepat dan tak ada bising kendaraan lalu lalang di jalan raya. Hanya manusia yang saling melihat senja dibalut tetes hujan sambil berteduh. Matahari senja semakin oranye terang membuat langit senja menjadi oranye di seluruh penjuru langit. Kita semua mengira ada api besar di langit, oh ternyata itu hanyalah luapan perpaduan awan hujan dan matahari senja sebelum langit gelap menyusul.

Di tiap senja aku melihat matahari melambat sambil tenggelam di dalam di tengah laut, tenggelam di tengah gunung dan hamparan tanah. Sungguh detik-detik yang menebarkan, banyak manusia yang takjub melihat keagungan yang kamu berikan wahai senja. Di sisi lain para pemburu senja memanfaatkan kesempatan langka itu untuk mengabdikan peristiwa ikonik itu.

Mereka menamai diri mereka yaitu pemburu Sunset, saat matahari tak mampu lagi menembus lagi awan karena cahaya telah redup. Bermodalkan Kamera DSLR dan Tripod, dengan sabar para pemburu senja menunggu saat detik-detik sedang eloknya senja untuk mengabdikan waktu peralihan alam.

Ada yang mengatakan saat senja itu datang, segala sesuatu harapan yang ingin kamu raih di hari itu telah tutup buku. Kamu harus menunggu hingga keesokan harinya saat matahari kembali terbit supaya segala harapan yang kamuu inginkan bisa diraih. Matahari tak pernah ingkar janji, ia selalu muncul di ufuk timur.

Laut jadi tempat yang begitu khas matahari tenggelam, matahari saat di ujung laut terlihat begitu besar namun kehilangan cahaya. Perlahan-lahan tenggelam, bentuknya bulat menjadi separuh,  sabit dan hilang tak berjejak. Langit timur mulai gelap dan langit barat menyisakan sedikit warna biru, merah dan sedikit putih. Senja pun berakhir dan mengharap esok senja datang tak kalah elok.
Baca juga: Esensi Kopi
Senja berakhir disusul angin laut pun datang menggantikan angin darat siap membawa para nelayan mengarungi laut membawa para nelayan ke tempat tujuan menjaring ikan. Angin darat sangat besar jasamu hingga dengan layar yang mengembang nelayan mampu yang ia mau. Pertanda itu baru saja muncul saat senja benar-benar hilang. Dinginnya angin darat membuat nelayan merasakan dingin hingga menusuk tulang, tapi apa daya untuk mencari nafkah rasa dingin itu sudah jadi santapan harian.

Di kota besar sangat sulit bisa melihat senja tenggelam. Asap serta polusi yang melempar dan mengambang membuat senja terasa remang-remang kabur. Gedung-gedung pencakar langit yang begitu sombong nan gagah menghalangi setiap manusia perkotaan menatap senja, sungguh pilu hati ini saat moment yang menenangkan setelah sehari dibantai kerasnya hidup dan penatnya pikiran hingga gagal melihat senja yang menguning serta lama-kelamaan memerah pekat sebelum menghilang di ufuk barat.

Saat senja datang, burung-burung bergegas mengepakkan sayap-sayap sembari terbang bergerombolan membentuk formasi. Di kepalai oleh sang pemimpin para burung, perjalanan pulang mereka melewati laut, hutan, pinggir kota dan pematang sawah. Pergi dengan perut kosong dan saat senja tiba mereka kembali ke sarang mereka dengan perut-perut kenyang. Mereka sadar sebelum matahari tenggelam mereka harus tiba ke sarang mereka setelah pagi buta terbang diarahkan kompas alami di paruh mereka sebagai penunjuk jalan mencari makan.

Jelang senja tiba, ternak mulai pulang dan merapat di dekat kandangnya. Para pengembala dengan sabar menuntun ternak-ternaknya hingga sampai ke kandang. Ternak tahu saat senja tiba, mereka harus telah mengisi perut agar malam yang panjang dan dingin mereka tak kelaparan. Dan peterenak juga tau saat senja para peternak sudah memberikan ternak yang mereka miliki agar mereka patuh masuk ke kandangnya. Siklus hidup mereka dibatasi oleh cahaya senja, selaku makhluk diurnal waktu istirahat telah tiba ujar ternak.

Berbeda dengan para hewan nokturnal, saat senja akan berakhir dan malam akan segera datang, mereka mulai mencari rezeki. Saat pagi hari, cahaya matahari yang begitu terang dan menyengat membuat mereka melindungi diri dan saat bulan dan bintang menjadi latar di langit gelap. Sudah saatnya kami keluar bertebaran di muka bumi ujar para makhluk nokturnal.
Itulah kenapa , manusia punya hobinya keluar malam serta mencari rezeki hingga larut namun terkulai lesu saat pagi dan siang hari. Manusia itu sudah mengganti siklus hidup dari diurnal menjadi noktrunal dan itu bertentangan dengan kodrat alam
Saat senja tiba, kita disuruh untuk banyak-banyak berzikir karena saat itu tubuh manusia merasakan sesuatu tak nyata saat pergantian siang ke malam hari, rasa elok senja membuat diri seakan manusia-manusia kehilangan kendali di jalanan. Suara klakson, macet panjang, penglihatan sedikit kabur hingga rasa buru-buru sampai ke tujuan merasuk ke hampir manusia di jalanan. Saat-saat itu manusia kehilangan kesabaran setelah seharian berpeluh keringat.

Senja itu semakin indah saat lampu-lampu jalan hidup serempak, kendaraan mulai menghidupkan lampu kabut tanda malam sebentar lagi mulai tiba. Emperan pertokoan tidak mau ketinggalan menghidupkan layar LED lambang tokonya dan saat itu kita sadar suasana redup penuh makna. Lampu jalan pun secara otomatis menyala mengikuti redupnya alam. Sudah waktunya aku menerangi jalanan kota ujar lampu jalan.

Orang tua dulu menganggap waktu senja adalah waktu setan-setan beterbangan di langit ke segala arah, mengacaukan akal sehat manusia layaknya laron yang saat senja beterbangan membuat pengendaraan banyak yang mengerlitkan mata. Kecil namun begitu pedih bila laron yang terbang kencang dan kamu memacu kendaraanmu hingga spedometer mengarah ke arah kanan. Dan laron masuk ke matamu saat berkendara akibat tak pakai helm atau lupa menaikkan kaca helm.
 Kenapa laron itu tega, saat dia terbang tapi arahnya selalu ke arah mata buat mata pengendara kelilipan tak berdaya saat senja

Untuk mengakali setan tak merasuk ke dalam jiwa, salat adalah penengah segala kegundahan dan kerisauan hati manusia. Saat senja mulai datang, surau-surau mulai menyalakan Speaker luar di menaranya sembari memutarkan rekaman ceramah disusul oleh lantunan ayat suci Al-Quran membuat siap saja yang mendengarnya serasa tenang lagi tenteram hatinya.

Memasuki akhir senja, kumandang azan berkumandang dari menara masjid yang tinggi menggema ke segala arah penjuru. Saling bersahut-sahutan nan merdu, suara terompah menuju ke masjid berbondong-bondong menggunakan pakaian masjid. Anak-anak berlari-lari bahagia bersama temannya agar duluan mengantre wudhu’

Air keran bekerja begitu keras saat Maghrib tiba, mengalir membasuhi para jemaah yang ingin berwudhu, suara keran dan air yang mengalir menjadi simphoni yang indah mengiringi setelah azan selesai. Saat iqamah berkumandang dan para jemaah merapikan shaf untuk memulai pelaksanaan salat senja mulai memudar.

Senja berakhir saat para jemaah mengambil sandal di pelataran masjid bergegas pulang dan saat itu hari telah gelap sepenuhnya. Sinar matahari sepenuhnya yang digantikan oleh bayang lampu jalan sebagai penuntun arah pulang dan bulan bintang penghias langit.

Wahai nuansa senja, 

Tags:

Share:

0 komentar