Pantulan Cermin


Cermin engkau adalah refleksi nyata tubuh dan jiwa ini, saat bangun pagi di depan westafel hal yang paling pertama kamu lihat adalah wajahmu. Kusut ditimpa kasur dan penuh belekan di mata. Cermin tak pernah berbohong, sifatnya aslinya nyata adalah patokan saat melihat raut mukamu kala bangun tidur. Terlihat layu ataukah terlihat begitu menawan setelah berhias.
Saya ingat sebuah anekdot yang mengatakan bercerminlah di waktu marah besar, karena saat itu kamu melihat itu bukan dirimu. Tetapi amarah yang melekat dalam dirimu yang elok. Kamu seperti bukanlah melihat dirimu
Penemu cermin pertama sekali begitu besar jasanya, ia punya inisiatif sangat besar agar manusia tak harus bercermin dari air ataupun becekan. Sungguh besar penemuan yang ia lakukan, andai saja tak terpikirkan oleh benak manusia tak ada yang bisa tampil menawan.

Kata-kata ngaca dulu sana adalah sebuah ungkapan sebuah tetap mawas diri lagi membumi. Di posisi tertentu manusia lupa diri dan merasa diri paling hebat. Kata-kata ini syarat mutlak harus mengoreksi dirinya sendiri. Manusia sangat sulit menerima kritikkan dari orang lain, ia merasa dirinya terlecehkan dan dianggap rendah. Mengoreksi diri sendiri adalah cara terbaik.

Bercerminlah, itulah cara terbaik melihat kekurangan diri. Saya sering melihat dalam Scene film seorang pemeran utama berdiri di depan Westafel sambil membasuh muka dan ia melihat ke arah cermin. Merenung sejenak apa yang salah dari dirinya hingga ia mengalami kegagalan, kegamangan dan keputus-asaan.
Baca juga: Wahai Nuasa Senja
Karena cermin tak pernah bohong, ia menjalankan tugasnya sebagai benda yang memantulkan objek. Dirimu terlihat utuh tanpa kurang sedikit pun. Saat pergi ke barber untuk memotong rambut. Cermin jadi primadona yang memantulkan kedua arah menjadi pelanggan dengan puas melihat potongan rambut yang ia mau. Ia begitu besar hingga manusia bisa melihat jengkal tubuh belakang yang tak bisa dilihat oleh mata.

Pernah anda merasa harus antre panjang di toilet umum hanya untuk bercermin. Tempat favorit manusia sambil ia beralasan ke toilet. Cermin toilet hampir sama dengan cermin Barber. Manusia ingin terlihat menawan dan cermin sebagai refleksi bahwa dirinya telah siap bertemu dengan banyak orang.

Wanita dengan anggunnya di dalam tasnya terdapat peralatan Make-up dan sepotong kaca cermin. Peralatan wajib yang harus dibawa ke mana saja. kemungkinan terburuk adalah bercermin di kaca mobil orang. Pasti pernah kita semua saksikan, itu bukan aib akan  tapi bercermin adalah kebutuhan.

Kata orang wanita lebih banyak bercermin dibandingkan lelaki, itu anggapan yang keliru. Karena bercermin setiap insan sebuah kebutuhan dan gender bukan alasan sedikit atau banyaknya bercermin. Tetapi dengan bercermin, semakin menawan dan sadar bahwa semua manusia adalah makhluk yang punya keunikan.

Tak perlu minder dengan diri sendiri, kini semua punya kelebihan bukan hanya terlihat dalam fisik, juga kelebihan hati. Cermin hanya mampu melihat fisik namun tak mampu melihat hati-hati mulia atau khianat manusia.
Saya ini orang baik, kenapa banyak yang mengatakan ini mirip wajib orang jahat dan pemarah?
Bercerminlah dengan seksama, cermin tak pernah berbohong hingga terlihat jelas kerutan di kening. Keriput yang tertumpuk di kedua sisi dan nanar mata yang tajam dan merah setiap kali marah. Cermin si pemberi bukti nyata.

Di dalam hidup cermin sama halnya dengan melihat jodoh, saat melihat dirinya kamu melihat pancaran dirimu dalam bentuk yang berbeda. Ikatan batin dan persamaan itu hanya hal belaka, ini bukan matematika dan hitungan pasti lainnya. Tetapi refleksi cermin hidup, bukan cermin benda yang kamu lihat setiap harinya.

Karena cermin refleksi semua insan, maka sebelum menghakimi dan menganggap diri mampu bercerminlah. Di saat itu manusia jadi membumi dan rendah diri.

Semoga menginspirasi!!!

Share:

0 komentar