Esensi Kopi



Kopi itu penuh esensi, kadang pahit di satu sisi tapi manis di sini lainnya hingga dapat meninggalkan begitu banyak kenangan unik saat menyentuh indra pengecap. Oh.., begitu menenangkan saat mencium aromanya wahai kopi.
Hidup diibaratkan seperti kopi, sangat pahit awalnya namun manis saat mengakhir tegukan terakhir

Esensi nyata sebuah kopi dari berbagai bentuk penyajian dari panas, setengah panas, dingin tergantung yang penikmat rasakan. Iya ingin buru-buru memilih kopi yang tidak terlalu panas, ia ingin sejenak menikmati kopi tanpa terlalu banyak waktu menunggu kopi bisa dicicipi. Penikmat kopi panas nan mendidih adalah pribadi yang sangat sabar menunggu, sambil merenungi dan menikmati setiap teguk kopi yang membasahi kerongkongan.

Tahukah kalian, saat kita menikmati segala kenikmatan kopi yang begitu syahdu para biji kopi harus bertarung begitu keras, menjajakan, dan mempertaruhkan dirinya dihadapan petani kopi hingga mampu lirik hingga dinikmati oleh penikmat kopi. Itu jadi rasa bangga yang tak terhingga bagi si kopi.

Kopi yang layak nikmati butuh proses berat yang harus dilalui. Berawal saat masih di pohon, hama bisa menyerang kapan saja. Apakah itu hama tumbuhan ataupun hewan siap mengintai kopi untuk diserang sebelum panen. Si kopi pun was-was memikirkan nasibnya apakah bisa seperti teman-temannya terdahulu, dicicipi para pecinta kopi.

Panen pun tiba, tahap telah dilalui, buah-buah kopi yang terserang hama dan berada pada kondisi layak harus terpisah. Nasibnya cukup sampai di situ. Mereka harus gugur ditahap awal pertarungan. Kopi-kopi yang tangguh tadi harus menghadapi panasnya proses pengeringan kopi yang berhari-hari lamanya, petani tahu bahwasanya pengeringan dilakukan agar kulit-kulit kopi mengelupas hingga terlihat kopi hitam legam, itulah wujud asliku. Ingatlah!!! proses ini buat diriku bisa pecah kapan pun dan mengurangi nilai jual, aku tahu mau dan aku tahan diriku agar tak pecah saat dikelupas para petani. 
Baca juga: Harfiah Waktu
Aku pun terpilih dan melewati proses sortasi biji dan kini aku dikirim jauh dari tempat aku tumbuh menjadi kopi. Bahagianya diriku, ternyata aku adalah kopi pilihan yang diekspor ke luar negeri layaknya kata pendahuluku dulu. Tahukah kalian siapa yang membeli diriku, mereka adalah Brand kedai kopi ternama di dunia perkopian dunia. Akhirnya mimpiku dan perjuangan kerasku menjadi kenyataan.

Kopi punya nama-nama yang cukup tenar bagi penikmatnya, itu semua lahir berdasarkan jenisnya hingga prosesnya yang buat harga kopi melambung tinggi sehingga penikmatnya rela merogoh kocek begitu dalam hanya itu kamu wahai segelas kopi. Nikmatmu tiada duanya. Manusia membedakan pada kopi menjadi nama-nama dan kualitas hingga membuat si kopi jadi tinggi hati. Nama i yang mendunia antara lain Arabika, Robusta dan varietas lainnya.

Proses kopi pun membuat dirinya menjadi ternama, walau dari pohon yang sama namun proses yang berbeda buat mereka beda saat manusia menghargainya. Kopi Luwak dari buangan feses Luwak liar saat petani malam harinya lengah ternyata punya nilai yang lebih berharga dari kopi bisa atau kini ada yang lebih berharga lagi adalah kopi dari muntahan raksasa darat bernama gajah. Buat yang mencicipinya harus merogoh kocek tebal hanya buat secangkir pekatnya kopi.

Bisa menjadi bubuk kopi di kedai-kedai Brand terkemuka membuat si kopi jadi bangga tak kepalang, namun dari sekian banyak kopi yang hanya berakhir terbuang tak pernah jadi bubuk kopi walaupun dari batang yang sama.
Memang nasib tak ada yang tau siap yang menjadi sang aktor utama dan siapa yang hanya jadi penonton semata
Penikmat kopi pun punya cara tersendiri menikmati, ada yang tanpa gula, kental, encer dan lain-lain. Ada yang ingin berpapasan dengan bubuk kental sambil membersihkan bubuk yang menggumpal di gelas kopi atau cukup air kopi yang bebas dari bubuk yang tertinggal di saringan Barista kopi.

Kopi itu alat politik yang begitu mesra, ajakan ngopi yuk? cuma dua kata tapi banyak makna yang menyatukan

Kopi sebagai pemulai pembicaraan dan kedai-kedai kopi jadi tempat para penikmat kopi. Sudah menjadi bukti dengan ngopi kita bisa berbicara panjang lebar mengenai segala problem, tukar pendapat, tertawa lepas, reunian teman lama hingga jadian bermula dari kata-kata sakti:
Ngopi Yuk? *Ngomong sama Chelsea Islan*
Sungguh bangga si kopi saat tahu dirinya lah yang mampu mencairkan suasana, menyatukan dua insan yang lama berpisah atau dua insan yang kemudian bisa merajut tali cinta.

Di tempat lain, petugas keamanan sedang ronda malam harus terusik oleh nyamuk yang kapan saja bisa menusuk hingga terasa ke tulang. Rasa kantuk bisa saja datang andai kopi tak bisa menemani, walaupun katta orang ngopi itu ngga ngantuk hanya mitos tapi dengan kopi seakan membuat mood terasa naik saat manusia lain terlelap tidur bersama mimpi-mimpinya.
Kopi tak punya pasangan setia, tapi mampu beradaptasi dengan semua selera penikmat kopi
Perkembangan zaman membuat kopi bisa dipadukan dengan siapa saja terlebih kopi tak harus berwarna hitam, perpaduan campuran susu, krim, cokelat chip, sirup, hingga biskuit membuat kopi punya cita rasa lain. Bisa disajikan dalam bentuk apapun, panaskah? atau dinginkah? dengan taburan krim. Bentuk gelas apapun, rasa kopi tetap melekat membuat penikmatnya rela menikmati rasanya yang syahdu.

Namun tak semua orang bisa merasakan nikmatnya kopi, ada orang tertentu saat menikmati cangkir kopi harus merasakan gejala yang tidak mengenakkan yakni ditandai dengan jantung berdebaran tak menentu, kepala pusing dan mual-mual atau lebih dikenal dengan papiltasi. Ada daya tubuh tak sanggup walaupun jiwa ingin tapi tubuh tak kuat menahan gejala kafein yang tinggi dari kau wahai kopi.

Secangkir kopi juga pembangkit semangat di pagi hari, kopi punya daya magis sangat kuat. Membuat karyawan yang lesu akibat kurang kerjaan dan banyak Deadline menjadi serentak bersemangat, pengusir kantuk manusia yang malam harinya kurang tidur dan buat lidah hambar menjadi pahit di satu sisi dan manis di sisi lain.

Kadang kopi itu adalah alat penggerak waktu begitu cepat, saat pertama sekali disuguhkan sangat panas hingga mampu membakar bibir. Para pemilik Warkop sengaja melakukan hal itu agar pelanggan bisa nikmati kopi tanpa pergi buru-buru. Gula yang mengendap di dasar gelas juga sebagai cita rasa bahwa penikmat kopi bisa mengaduk-ngaduk gula di dasar gelas dengan sendok agar suhu kopi turun.

Kopi alat perenung yang baik, banyak manusia yang merenung sambil menyeruput kopi di gelas yang masih panas. Memikirkan dan menenangkan diri sambil mencari solusi jitu, begitu banyak pemikir dan penulis handal merenung untuk mengeluarkan gagasan ditemani secangkir kopi. Memang kopi disajikan pada cangkir kecil, walaupun sedikit namun rasanya banyak dan buat siapa saja betah berlama-lama dengannya.

Penemuan kopi mulanya sangat unik, menurut sejarah kopi ditemukan oleh Bangsa Arab saat sedang bergembala ternak. Pengembala merasa heran saat melihat ternak mereka begitu bertenaga saat memakan biji-bijian dari tumbuhan kopi. Karena penasaran, para pengembala mengolah biji kopi hingga menjadi bubuk kopi. Dan ternyata kopi punya energi yang luar biasa. Para saudagar dan penyebar agama islam saat itu memanfaatkan kopi sebagai media dakwah. Selain punya kasih memberi tenaga lebih, kopi juga buat para jemaah semakin bersemangat ibadah di malam hari.

Saat abad pertengahan bangsa Eropa mulai mengenai esensi kopi yang begitu bermakna termasuk akulturasi yang dilakukan pada bangsa Eropa saat itu. Penjajahan serta lahirnya semboyan Glory, Gold and Gospel membuat bangsa Eropa melakukan ekspansi serta penjajahan pada bangsa di Asia dan Amerika. Mereka membawa bibit kopi yang kemudian mampu tumbuh lebih subur dibandingkan di negeri mereka, hingga melahirkan berbagai jenis kopi dan penghasil kopi utama seperti Brasil, Vietnam, dan Indonesia.

Perpindahan bibit kopi yang hanya hidup di daerah Afrika dan dikembangkan oleh bangsa Arab memberi berkah tersendiri, Penyebarannya sampai ke nusantara melalui tangan-tangan bangsa Eropa  mampu menghasilkan kopi  negeri kita yang diakui dunia. Andai saja kopi tak tersebar luas seluruh dunia, bisa jadi kopi jadi komoditi langka yang paling dicari dan sebagai pemicu perang layaknya krisis minyak kini.

Dulunya kopi adalah minum yang langka dan dilarang pada tempat tertentu, hanya kaum aristokrat yang mampu mencicipi. Kini kopi menjadi minuman yang begitu merakyat, membudaya. Siapa saja biasa mencicipi dan minum kopi sudah jadi tradisi yang melekat berdasarkan sesuatu bangsa.

Emansipasi kopi berhasil dan itulah esensi nyata yang diharapkan si kopi sendiri, tak hanya persebaran di kebun warga tapi juga ke kedai-kedai  hingga membuat dunia penuh beragam rasa dan makna kepada para penikmatnya.

Wahai Kopi...

Tags:

Share:

1 komentar